Archive for May, 2008

fe’s world :)

Tuesday, May 27th, 2008

hari ini, memperingati tepat 2 tahun gempa jogja

fe’s world :)

Sunday, May 11th, 2008
baca kompas hari ini yah..
ato baca ini aja

Di Yogya, Lidah Wajib Bertamasya

Minggu, 11 Mei 2008 | 08:06 WIB

Yogyakarta bukan hanya ”istimewa” daerahnya, tetapi juga istimewa dalam perkara memburu makanan enak. Bayangkan.

Untuk
menyantap semangkuk soto Bu Cip di Tamansari atau menikmati legitnya
nasi goreng kambing olahan Mbak Sopiah di Warung Sate ”Pak Dakir” di
Jalan HOS Cokroaminoto
, kita harus menyiapkan stamina istimewa untuk
antre tunggu giliran. Dan, menikmati istimewanya kegerahan di warung
sempit. Bahkan, jika menyantap tongseng kambingnya Pak No di Desa
Menayu Kulon, Ring Road Selatan
, orang akan merasakan istimewanya
sengatan cabe superpedas. ”Habis lari maraton ya,” ledek Pak No setiap
konsumennya bercucuran keringat dan terengah-engah kepedasan.

Itulah
Yogya. Melengkapi statusnya sebagai kota budaya, ia menyimpan begitu
banyak keunikan, teristimewa yang berurusan dengan kemanjaan lidah.
Dikategorikan unik karena olahan makanan (tradisional) itu jarang
ditemui di menu kelas restoran. Misalnya baceman kepala kambing di
belakang Pasar Colombo, Jalan Kaliurang; baceman bebek di Pasar Ngino,
Godean;
atau baceman burung puyuh dan burung dara di depan gerbang
Ndalem Notoprajan
. Atau, yang dikategorikan lauk-pauk unik, seperti
gorengan cethul goreng di Tamansari, rantengan (baceman empal, babat,
iso, rambak, petis) Bu Warno di lantai dua Pasar Beringharjo bagian
timur, berdekatan dengan gado-gado legendaris Bu Hadi.

Masih
banyak warung legendaris yang bertahan hingga kini, bahkan dikelola
generasi kedua atau ketiga. Yang pernah kuliah di UGM Bulaksumur
dipastikan pernah menikmati pecel, sop, dan es sari tomat di SGPC Bu
Wiryo
. Biasanya, mereka ingin mengenang kembali SGPC yang dulu kondang
dengan kejenakaan pelayannya, yang selalu mengistilahkan menu makanan
dengan ungkapan yang lucu: sop tanpa kawat (maksudnya tanpa mihun),
pecel banjir (dengan bumbu kacang yang banyak), atau sop tanpa colt
kampus (maksudnya tanpa kol, kubis).

Sementara yang menggemari
makanan berkuah akan berjodoh dengan Soto Kadipiro di jalan Wates, yang
saking melegendanya di sekitar situ banyak muncul kedai soto dengan
brand ”Kadipiro”. Namun, ada genre soto lain. Beda bumbu dan dagingnya.
Jika soto Kadipiro—juga Soto Sawah di Desa Soragan dan Soto Pak Slamet
di Mejing, Gamping
—disertai suwiran ayam goreng, maka yang ini berbasis
daging sapi: Soto Pak Marto, Soto Bu Cip, Soto Sumuk Gondolayu, Soto
Pithes Pasar Beringharjo
, atau Soto Pak Sholeh di Tegalrejo.

Sementara
di ”fraksi” sate dan tongseng kambing, orang tentu tak bisa melupakan
Sate Kambing Pak Amat di Alun-alun Utara, Tongseng Wiyoro, Tongseng
Ngasem, Tongseng Babadan Sleman, Sate/Tongseng Mbah Godril,
Sate
Samirono
, Lelung alias Gule Balung di Desa Gesikan, Bantul; SGTK alias
Satu Gule Tongseng Kambing Pak Anshor di Notoprajan, Sate Klathak Pak
Bari dan Jono di dalam Pasar Jejeran
, dan tentu saja deretan warung
sate dan tongseng kambing di sepanjang jalan menuju Imogiri yang
jumlahnya puluhan. Sementara yang mengidap darah tinggi bisa
mengalihkan konsumsinya ke sate sapi alias sate kocor Pak Tjipto di
Jalan Kemasan
dan beberapa kedai sejenis di pinggiran Lapangan Karang,
yang juga berada di wilayah Kotagede.

Menguji kesabaran

Warung-warung
legendaris semacam ini bisa bernama warung lesehan, kedai, angkringan,
depot, atau sekadar dapur. Dapur yang memang benar-benar tempat memasak
dan cuci piring. Umumnya, orang tak sabaran menunggu dan langsung
menyantap di dapur sebagaimana selalu berlangsung saban malam di Gudeg
Pawon Bu Prapto, Janturan, Semaki, Yogya
, yang baru start setelah pukul
23.30 WIB.

Nah, bicara soal gudeg, variannya pun beragam.
Masing-masing dengan keunikannya tersendiri. Ada gudeg kering ala gudeg
Wijilan, Gudeg Juminten dan Gudeg mBarek. Ada gudeg basah dengan santan
cair atau setengah kental seperti Gudeg Bu Citro, Gudeg Bu Sri di
selatan Pasar Klithikan Kuncen
; Gudeg Permata, Gudeg Klentheng, Gudeg
Mbak Ginuk di Jetis, atau Gudeg Bu Joyo
yang selalu menggelar
dagangannya pukul 23.00 di sebelah utara Pasar Beringharjo. Juga ada
gudeg manggar yang tidak lagi menggunakan buah nangka muda (gori) di
Srandakan, Bantul.

Jika didramatisir, ibaratnya, di setiap
jengkal jalanan Yogya orang bisa menemukan sensasi anyar yang
barangkali tidak ditemui di kota lain. Terbitnya sensasi itu tak hanya
dilihat dari bahan bakunya yang nyleneh seperti misalnya sate kuda (di
Gondolayu)
, sate bulus alias sate kura-kura (di kawasan Jetis). Juga
bukan dikarenakan produk-produk makanannya yang unik macam Oseng-Oseng
Mercon
(di Jalan KHA Dahlan dan Suryowijayan), atau Sega Kucing (di
warung-warung angkringan di berbagai pojok kota)
.

Namun, sensasi
itu bisa jadi karena memang penjualnya yang kelewat percaya diri
terhadap produk jualannya sehingga kurang peduli pada aspek pelayanan.
Itu tercermin dari tempatnya yang terkesan rada jorok, tidak
menyediakan toilet yang pantas, penyajiannya sangat sederhana dan
pelayanannya pun terkesan semau gue.

Bayangkan saja, sementara
kita ngebet ingin menikmati gurihnya mangut lele Yu Kini di Desa
Ganjuran, Bantul, kurang lebih 15 kilometer selatan Yogya
—yang untuk
datang ke situ membutuhkan 35 menit dari pusat kota—sesampai di sana
kita belum tentu bisa langsung makan. ”Kalau mau, ya nunggu. Aku durung
ngliwet (saya belum menanak nasi),” ujar Yu Kini tanpa merasa bersalah.

Dan,
biasanya, pelanggan hanya bisa mengumpat dalam hati meski tetap rela
menunggu sampai nasi matang. Malah oleh para pelanggannya, warung Yu
Kini terkadang dijadikan indikator kemujuran nasib. Kalau nasib baik,
setiba di sana nasi telah tersedia. Kalau belum ada, ya anggaplah untuk
berlatih menguji kesabaran.

Butet Kartaredjasa, Aktor dan Pemangsa Makanan Enak

_________________________________________________________________________

terkutuklah para dokter yang ngasih fe beberapa pantangan.
kalo aja ada yang nganterin fe nyari makanan ke tempat yang mblasuk-mblasuk itu.. betapa menyenangkan..
dan parahnya.. orang yang fe harepin, pasti ga bakal ada di jogja dalam sekejap mata *ngantemi kasur*

AAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH